Showing posts with label muhammad. Show all posts
Showing posts with label muhammad. Show all posts

Tuesday, May 17, 2011

Sejarah Hidup Muhammad SAW: Hijrah yang Pertama

|0 comments
REPUBLIKA.CO.ID,  Sikap dan   kata-kata keponakannya  itu oleh  Abu  Thalib disampaikan  kepada  Bani   Hasyim  dan Bani Muthalib. Dimintanya  supaya Muhammad dilindungi dari tindakan  Quraisy. Mereka semua menerima usul  ini,  kecuali  Abu  Lahab. Ia terang-terangan menyatakan  permusuhannya. Abu Lahab menggabungkan diri dengan pihak lawan.

Periode yang dilalui Muhammad SAW ini adalah periode paling dahsyat yang pernah dialami oleh sejarah umat manusia. Baik Muhammad atau mereka yang menjadi pengikutnya, bukanlah orang-orang yang menuntut harta kekayaan, kedudukan atau kekuasaan, melainkan orang-orang yang menuntut kebenaran.

Nabi Muhammad adalah orang yang mengharapkan bimbingan bagi mereka yang  mengalami  penderitaan, dan membebaskan  mereka  dari belenggu paganisme yang rendah, yang menyusup ke dalam jiwa manusia sampai ke lembah kehinaan yang sangat memalukan.

Demi tujuan rohani yang luhur itulah, Rasulullah mengalami siksaan. Penyair-penyair   memakinya, orang-orang Quraisy berkomplot hendak membunuhnya di Ka'bah. Rumahnya dilempari  batu,  keluarga dan pengikut-pengikutnya diancam. Namun itu semua malah membuat beliau makin tabah dan gigih meneruskan dakwah.

Pada suatu  hari Abu Jahal bertemu dengan Muhammad SAW, ia mengganggunya, memaki-makinya dan mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas. Namun Rasulullah tidak melayaninya. Ditinggalkannya Abu Jahal tanpa sepatah kata pun.

Hamzah, pamannya dan saudaranya sesusuan, yang masih berpegang pada kepercayaan Quraisy, adalah seorang  laki-laki  yang  kuat  dan  ditakuti. Ia  mempunyai kegemaran  berburu. Bila ia kembali dan berburu, terlebih dulu mengelilingi Ka'bah sebelum langsung pulang ke rumahnya.

Hari itulah ia mengetahui bahwa keponakannya mendapat gangguan Abu Jahal. Ia marah dan langsung pergi ke Ka’bah dan menemui Abu Jahal. Setelah dijumpainya, diangkatnya busurnya lalu dipukulkannya keras-keras di kepala Abu Jahal. Beberapa orang dan Bani Makhzum mencoba membela Abu Jahal. Namun tidak jadi. Mereka khawatir akan timbul bencana yang membahayakan.

Setelah itulah kemudian Hamzah menyatakan masuk Islam. Ia berjanji kepada Muhammad akan membelanya dan akan berkorban di jalan Allah sampai akhir hayatnya.

Pihak Quraisy merasa sesak  dada  melihat  Muhammad  dan kawan-kawannya makin hari makin kuat. Di samping itu, gangguan dan  siksaan  yang  dialamatkan  kepada  mereka,  tidak  dapat mengurangi iman mereka dan tidak dapat  menghalangi  mereka melakukan kewajiban agama.

Terpikir oleh Quraisy akan membebaskan diri dari Muhammad, dengan  cara seperti yang mereka bayangkan, memberikan segala keinginannya. Mereka rupanya lupa bahwa keagungan dakwah  Islam,  kemurnian esensi  ajaran  ruhaninya  yang  begitu tinggi, berada di atas segala pertentangan ambisi politik.

Utbah bin  Rabiah,  seorang bangsawan  Arab  terkemuka,  mencoba  membujuk  Quraisy ketika mereka bertemu dan mengatakan bahwa ia akan bicara dengan  Muhammad dan menawarkan hal-hal yang barangkali mau diterimanya. Mereka mau  memberikan apa saja kehendaknya, asal ia dapat dibungkam.

Ketika itulah Utbah bicara dengan Muhammad. "Anakku,"  katanya, "Seperti kau ketahui, dari segi keturunan, engkau mempunyai tempat di kalangan kami. Engkau telah membawa soal besar ke tengah-tengah masyarakatmu, sehingga mereka cerai-berai  karenanya.  Sekarang dengarkanlah, kami akan menawarkan beberapa hal,  kalau-kalau  sebagian  dapat kau terima. Kalau dalam hal ini yang kau inginkan  adalah  harta, kami pun siap mengumpulkan harta kami. Sehingga hartamu akan menjadi yang terbanyak di antara kami. Kalau kau menghendaki kedudukan, kami  angkat engkau di atas kami semua. Kami takkan memutuskan  suatu  perkara  tanpa  persetujuanmu. Kalau kedudukan  raja  yang  kau inginkan,  kami nobatkan kau sebagai raja kami."

Selesai ia bicara, Muhammad membacakan Surah As-Sajdah. Utbah terdiam mendengarkan kata-kata yang begitu indah itu. Dilihatnya sekarang yang berdiri di  hadapannya  itu  bukanlah seorang  laki-laki  yang  didorong  oleh  ambisi  harta, kedudukan  atau  kerajaan, juga  bukan  orang   yang   sakit, melainkan orang yang mau menunjukkan kebenaran, mengajak orang kepada kebaikan. Ia  mempertahankan sesuatu  dengan  cara  yang baik, dengan kata-kata penuh mukjizat.

Selesai  Muhammad SAW membacakan  itu, Utbah pergi kembali kepada Quraisy.  Apa  yang  dilihat  dan   didengarnya itu sangat memesonakan dirinya. Ia terpesona karena kebesaran orang itu. Penjelasannya sangat menarik sekali. Penjelasan Utbah ini tidak menyenangkan pihak Quraisy. Juga pendapatnya supaya Muhammad dibiarkan saja, tidak menggembirakan mereka.

Gangguan terhadap kaum Muslimin makin menjadi-jadi, sampai-sampai ada yang dibunuh, disiksa dan semacamnya.  Waktu itu Nabi SAW menyarankan  supaya  mereka berpencar-pencar. Ketika mereka bertanya kepadanya  kemana  mereka  akan  pergi, Rasulullah menasihati supaya mereka pergi ke Abisinia yang rakyatnya menganut agama Kristen. "Tempat itu  diperintah  seorang  raja dan tak ada orang yang dianiaya di situ. Itu bumi jujur, sampai nanti Allah membukakan jalan buat kita semua," kata Rasulullah.

Sebagian kaum Muslimin lalu berangkat ke Abisinia guna menghindari  fitnah  dan  tetap mempertahankan agama. Mereka berangkat dengan melakukan dua kali hijrah. Yang pertama terdiri dari sebelas orang pria dan empat wanita. Dengan sembunyi-sembunyi mereka keluar dari Makkah  mencari  perlindungan. Kemudian mereka mendapat tempat yang baik di bawah Najasyi, penguasa Abisinia.

Ketika kemudian tersiar berita bahwa kaum Muslimin di Makkah telah selamat dari  gangguan Quraisy, mereka pun lalu kembali pulang. Namun ternyata mereka mengalami kekerasan lagi dari Quraisy, melebihi yang sudah-sudah. Mereka pun kembali lagi ke Abisinia. Kali  ini  terdiri  dari  delapan puluh orang pria tanpa kaum istri  dan  anak-anak. Mereka  tinggal di Abisinia hingga Nabi SAW hijrah ke Yatsrib.




Redaktur: cr01
Sumber: Sejarah Hidup Muhammad oleh Muhammad Husain Haekal

Sejarah Hidup Muhammad SAW: Raja yang Bijak

|0 comments
REPUBLIKA.CO.ID,  Kedua orang utusan itu adalah Amr bin Ash dan Abdullah bin Abi Rabiah. Kepada Najasyi dan  para pembesar istana mereka mempersembahkan hadiah-hadiah dengan  maksud agar mereka sudi mengembalikan orang-orang yang hijrah dari Makkah itu.

"Paduka  Raja,"  kata mereka, "Penduduk Makkah yang datang ke negeri paduka ini adalah budak-budak kami yang tidak punya malu. Mereka meninggalkan agama bangsanya  dan  tidak pula menganut agama paduka. Mereka membawa agama  yang  mereka ciptakan sendiri, yang tidak kami kenal dan tidak juga paduka. Kami diutus kepada paduka oleh pemimpin-pemimpin mereka,  oleh orang-orang  tua, paman mereka dan keluarga mereka sendiri, supaya paduka sudi mengembalikan orang-orang itu."

Sebenarnya kedua utusan itu telah mengadakan persetujuan dengan pembesar-pembesar istana, setelah menerima hadiah-hadiah dari penduduk Makkah, mereka akan membantu  usaha  mengembalikan  kaum Muslimin itu kepada pihak Quraisy. Pembicaraan mereka ini tidak diketahui raja.

Tetapi  baginda  menolak  sebelum mendengar sendiri keterangan dari  pihak Muslimin.  Lalu  dimintanya  mereka  datang menghadap. "Agama  apa  ini  yang  sampai  membuat tuan-tuan meninggalkan masyarakat tuan-tuan sendiri, tetapi tidak  juga tuan-tuan menganut agamaku,  atau  agama  lain?"  tanya Najasyi setelah mereka datang.

Yang diajak bicara ketika itu ialah Ja'far bin Abi Thalib. "Paduka Raja,"  katanya,  "Ketika  itu  kami  masyarakat  yang bodoh,  kami  menyembah berhala, bangkai pun kami makan. Segala kejahatan kami lakukan, memutuskan  hubungan  dengan kerabat, dengan  tetangga pun  kami  tidak baik, yang kuat menindas yang lemah. Demikian keadaan kami, sampai Tuhan  mengutus  seorang rasul  dari  kalangan kami yang sudah kami kenal asal usulnya, dia jujur, dapat dipercaya dan bersih pula."

Ja'far melanjutkan, "Ia mengajak  kami menyembah  hanya  kepada Allah Yang Maha Esa, dan meninggalkan batu-batu  dan  patung-patung  yang  selama itu kami sembah.  Ia menganjurkan kami untuk tidak berdusta untuk berlaku jujur serta  mengadakan  hubungan keluarga  dan  tetangga yang baik, serta menyudahi pertumpahan darah dan  perbuatan  terlarang  lainnya.  Ia  melarang  kami memakan harta anak yatim atau mencemarkan  wanita-wanita  yang bersih. Ia meminta kami menyembah Allah dan tidak mempersekutukan-Nya. Selanjutnya kami disuruh melakukan shalat, membayar zakat dan berpuasa."

"Karena itulah, tambah Ja'far, "Masyarakat  kami  memusuhi  kami, menyiksa dan  menghasut supaya meninggalkan agama kami dan kembali menyembah berhala, kembali membenarkan segala keburukan yang pernah kami lakukan dulu. Oleh karena mereka memaksa, menganiaya, menekan dan menghalang-halangi kami dari agama kami, maka kami pun keluar pergi ke negeri tuan ini. Tuan jugalah  yang  menjadi  pilihan kami. Senang sekali kami berada di dekat tuan, dengan harapan di sini takkan ada penganiayaan."

"Adakah ajaran Tuhan yang dibawanya itu yang dapat tuan-tuan bacakan kepada kami?" tanya Raja itu lagi.

"Ya,"  jawab  Ja'far, lalu membacakan Surah Maryam dari ayat pertama sampai pada firman Allah: "...maka Maryam menunjuk kepada anaknya. Mereka berkata: 'Bagaimana  kami akan berbicara dengan anak kecil yang masih dalam ayunan?' Berkata Isa, 'Sesungguhnya aku ini hamba Allah. Dia memberiku Al-Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi. Dan menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka. Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali!" (QS Maryam: 29-33).

Setelah mendengar bahwa keterangan itu membenarkan apa yang tersebut dalam  Injil, pemuka-pemuka istana terkejut. "Kata-kata yang keluar dari sumber yang mengeluarkan kata-kata Yesus Kristus," kata mereka.

Najasyi lalu berkata (kepada kedua orang utusan Quraisy), "Kata-kata ini dan yang dibawa oleh Musa, keluar dari sumber cahaya yang sama. Tuan-tuan pergilah. Kami takkan menyerahkan mereka kepada tuan-tuan!"

Keesokan harinya Amr bin Ash kembali menghadap Raja dengan mengatakan bahwa  kaum Muslimin mengeluarkan tuduhan yang luar biasa terhadap Isa anak Maryam. 

"Panggillah mereka dan tanyakan apa yang mereka katakan itu!" perintah Najasyi.

Setelah mereka datang, Ja'far berkata, "Tentang dia, pendapat kami seperti yang dikatakan Nabi kami. Dia adalah hamba Allah dan utusan-Nya, ruh-Nya dan firman-Nya yang disampaikan kepada perawan Maryam."

Najasyi lalu mengambil sebatang tongkat dan menggoreskannya di lantai. Dan dengan gembira berkata, "Antara agama tuan-tuan dan agama kami sebenarnya tidak lebih dari garis ini."

Setelah mendengar keterangan dari kedua belah pihak, nyatalah bagi Najasyi, bahwa kaum Muslimin itu mengakui  Isa, mengenal adanya Kristen dan menyembah Allah.

Selama di Abisinia kaum Muslimin merasa aman dan tenteram. Ketika kemudian disampaikan kepada mereka, bahwa permusuhan pihak Quraisy sudah berangsur  reda, mereka lalu kembali ke Makkah untuk pertama kalinya. Sementara Rasulullah SAW pun masih di Makkah.



Redaktur: cr01
Sumber: Sejarah Hidup Muhammad oleh Muhammad Husain Haekal

Sejarah Hidup Muhammad SAW: Ketika Umar Berislam

|0 comments
REPUBLIKA.CO.ID, Waktu itu Umar bin Khathab adalah pemuda yang gagah perkasa, berusia antara tiga puluh dan  tiga puluh  lima  tahun. Tubuhnya  kuat  dan  tegap,  penuh emosi dan cepat naik darah. Kesenangannya berfoya-foya dan minum-minuman keras. Namun terhadap keluarga ia bijaksana dan lemah-lembut. Dari kalangan Quraisy dialah yang paling keras memusuhi kaum Muslimin.

Tatkala itu Muhammad SAW sedang berkumpul dengan sahabat-sahabatnya yang tidak ikut hijrah, dalam sebuah rumah di Shafa. Di antara mereka ada Hamzah pamannya, Ali bin Abi Thalib sepupunya, Abu Bakar dan Muslimin yang lain. Pertemuan  mereka  ini  diketahui  Umar. Ia pun pergi ke tempat mereka, hendak membunuh Muhammad. Dengan demikian bebaslah Quraisy, dan mereka kembali bersatu setelah mengalami perpecahan.

Di tengah jalan ia bertemu dengan Nu'aim bin Abdullah. Setelah mengetahui maksudnya, Nu'aim berkata, "Umar, engkau  menipu  diri  sendiri.  Kau kira keluarga  Abdi Manaf akan membiarkanmu merajalela begini sesudah engkau membunuh Muhammad? Tidak, lebih baik kau pulang saja ke rumah dan perbaiki keluargamu sendiri!"

Pada  waktu  itu  Fatimah,  saudaranya,  beserta Sa'id bin Zaid suaminya sudah masuk Islam. Setelah mengetahui hal ini dari Nu'aim, Umar cepat-cepat pulang dan langsung menemui mereka. Di tempat itu ia mendengar ada orang  membaca Al-Qur'an. Setelah  merasa ada orang yang sedang mendekati, orang yang membaca itu sembunyi dan Fatimah menyembunyikan lembaran yang dibawanya.

"Aku mendengar suara bisik-bisik apa itu?" tanya Umar.

Karena mereka tidak mengakui, Umar membentak lagi dengan suara lantang. "Aku sudah mengetahui, kamu menjadi pengikut Muhammad dan menganut agamanya!"  katanya  sambil  menghantam Sa'id keras-keras. Fatimah, yang berusaha hendak  melindungi suaminya, juga mendapat pukulan keras.

Kedua suami isteri itu marah. "Ya,  kami  sudah  Islam.  Sekarang  lakukan apa saja maumu!" teriak mereka.

Namun Umar jadi gelisah sendiri setelah melihat darah di muka saudaranya  itu.   Ketika itu juga lalu timbul rasa iba dalam hatinya. Ia menyesal. Dimintanya kepada  saudaranya supaya lembaran yang mereka baca itu diberikan kepadanya. 

Setelah membacanya, wajah Umar tiba-tiba berubah. Ia merasa menyesal sekali atas  perbuatannya. Bergetar jiwanya setelah membaca isi lembaran itu. Ada sesuatu yang  luar biasa dan agung yang ia rasakan. Ada sebuah seruan yang begitu luhur. Sikapnya jadi lebih bijaksana.

Ia keluar membawa hati yang sudah lembut dan jiwa yang tenang. Ia langsung menuju  ke tempat Nabi Muhammad dan sahabat-sahabatnya berkumpul di Shafa. Ia meminta izin masuk, lalu menyatakan dirinya masuk Islam.

Dengan adanya Umar dan Hamzah dalam barisan Islam, maka kaum Muslimin mendapat benteng dan perisai yang lebih kuat. Dengan Islamnya Umar, kedudukan Quraisy menjadi lemah. Mereka kembali mengadakan pertemuan guna menentukan langkah lebih lanjut.

Sebenarnya peristiwa  ini telah memperkuat kedudukan kaum Muslimin, telah memberikan unsur baru berupa kekuatan yang luar biasa yang menyebabkan kedudukan Quraisy terhadap kaum Muslimin dan kedudukan mereka terhadap Quraisy sudah tidak seperti dulu lagi.

Keadaan kedua belah pihak ini kemudian diteruskan oleh suatu perkembangan politik baru; penuh dengan peristiwa, pengorbanan dan kekerasan hingga menyebabkan terjadinya hijrah dan munculnya Muhammad sebagai politikus di samping sebagai Nabi dan Rasul.


Redaktur: cr01
Sumber: Sejarah Hidup Muhammad oleh Muhammad Husain Haekal

Sejarah Hidup Muhammad SAW: Berakhirnya Blokade

|0 comments
REPUBLIKA.CO.ID, Selama tiga tahun berturut-turut piagam yang dibuat pihak Quraisy untuk memboikot  Muhammad dan mengepung kaum Muslimin itu tetap berlaku. Pada saat  itu Rasulullah dan keluarga serta sahabat-sahabatnya sudah mengungsi ke celah-celah gunung di luar kota Makkah, dengan mengalami pelbagai macam  penderitaan. Sehingga untuk mendapatkan bahan makanan sekadar menahan rasa lapar pun tidak ada.

Rasulullah dan kaum Muslimin tidak diberikan kesempatan bergaul dan bercakap-cakap dengan orang lain, kecuali dalam bulan-bulan suci. Pada waktu itu orang-orang Arab berdatangan ke Makkah berziarah, segala permusuhan dihentikan—tak ada pembunuhan, tak ada penganiayaan, tak ada permusuhan, tak ada balas dendam.

Pada bulan-bulan itu Muhammad SAW turun, mengajak orang-orang Arab itu kepada agama Allah, diberitahukannya kepada mereka arti pahala dan arti siksa. Segala penderitaan yang dialami Rasulullah demi dakwah itu justru telah menjadi penolongnya.

Mereka yang telah mendengar tentang itu lebih  bersimpati  kepadanya,  lebih suka mereka menerima ajakannya. Blokade yang dilakukan Quraisy kepadanya, kesabaran dan ketabahan hatinya memikul semua itu demi risalahnya, telah memikat hati orang banyak.

Penderitaan yang begitu lama, yang dialami kaum Muslimin karena kekerasan pihak Quraisy—padahal mereka masih sekeluarga—menimbulkan simpati sebagian warga Quraisy. Banyak diantara mereka yang merasakan betapa beratnya kekerasan dan kekejaman yang dilakukan Quraisy. Dan sekiranya tidak ada penduduk Makkah yang bersimpati kepada kaum Muslimin, membawakan makanan ke celah-celah gunung tempat mereka mengungsi itu, niscaya mereka akan mati kelaparan. 

Dalam hal ini, Hisyam bin Amr termasuk salah seorang dari kalangan Quraisy yang paling simpati kepada Muslimin. Tengah malam ia datang membawa unta yang dimuati makanan atau gandum.  Ketika ia sudah sampai di depan celah gunung itu, dilepaskannya tali untanya lalu dipacunya supaya terus masuk ke tempat kaum Muslimin.

Merasa kesal melihat Muhammad dan sahabat-sahabatnya dianiaya sedemikian rupa, Hisyam pergi menemui Zuhair bin Abi Umayyah (Bani Makhzum). Ibu Zuhair adalah Atika binti Abdul Muthalib (Bani Hasyim).

"Zuhair," kata Hisyam, "Kau sudi menikmati makanan, pakaian dan wanita-wanita. Padahal seperti kau ketahui, keluarga ibumu tidak boleh berhubungan dengan orang lain, tidak boleh berjual-beli, tidak boleh saling mengawinkan. Aku bersumpah, bahwa kalau mereka itu keluargaku dari pihak ibu—keluarga Abul Hakam bin Hisyam—lalu aku diajak seperti mengajak kau, tentu akan kutolak."

Keduanya kemudian sepakat akan sama-sama membatalkan piagam itu. Tapi  meskipun begitu harus mendapat dukungan juga dari yang lain, dan secara rahasia  mereka harus diyakinkan. Pendirian kedua orang itu kemudian disetujui oleh Mut'im bin Adi (Naufal), Abu Al-Bakhtari bin Hisyam dan Zam'ah bin Al-Aswad (keduanya Bani Asad). Mereka berlima lalu sepakat akan mengatasi persoalan piagam itu dan akan membatalkannya.

Dengan tujuh kali mengelilingi Ka'bah keesokannya pagi-pagi Zuhair bin Umayyah  berseru kepada orang banyak, "Hai penduduk Makkah! Kamu sekalian enak-enak makan dan berpakaian padahal Bani Hasyim binasa tidak dapat mengadakan hubungan dagang. Demi Allah, aku tidak akan duduk sebelum piagam yang kejam ini dirobek!"

Abu Jahal, begitu mendengar ucapan itu, langsung berteriak, "Bohong! Tidak akan kita robek!"

Saat itu juga terdengar suara-suara Zam'ah, Abu Al-Bakhtari, Mut'im dan Amr bin Hisyam mendustakan Abu Jahal dan mendukung Zuhair.

Abu Jahal segera menyadari bahwa peristiwa ini akan terselesaikan juga malam itu dan orang pun sudah menyetujui. Kalau dia menentang mereka, tentu akan timbul bencana. Merasa khawatir, ia lalu cepat-cepat pergi.

Ketika Mut'im bersiap akan merobek piagam tersebut, dilihatnya sudah mulai dimakan rayap, kecuali pada bagian pembukaannya yang berbunyi: "Atas nama-Mu ya Allah..."

Dengan demikian terdapat kesempatan bagi Nabi SAW dan sahabat-sahabat untuk pergi meninggalkan celah bukit yang curam itu dan kembali ke Makkah. Kesempatan berjual-beli dengan Quraisy juga terbuka. Sekalipun demikian, hubungan antara keduanya masih seperti dulu; masing-masing siap-siaga bila permusuhan itu sewaktu-waktu memuncak lagi.

Setelah piagam disobek, Muhammad SAW dan pengikut-pengikutnya pun turun gunung. Seruannya dikumandangkan lagi kepada penduduk Makkah dan kepada kabilah-kabilah yang pada bulan-bulan suci itu datang berziarah ke Makkah. 

Meskipun ajakan Rasulullah sudah tersiar ke seluruh kabilah Arab di samping banyaknya mereka yang sudah menjadi pengikutnya, namun para sahabatnya masih tidak selamat dari siksaan Quraisy.


Redaktur: cr01
Sumber: Sejarah Hidup Muhammad oleh Muhammad Husain Haekal

Sejarah Hidup Muhammad SAW: Tahun Duka Cita

|0 comments
REPUBLIKA.CO.ID, Beberapa bulan setelah pencabutan blokade, secara tiba-tiba sekali dalam satu tahun saja, Nabi SAW didera duka cita yang sangat mendalam, yakni kematian Abu Thalib  dan Khadijah secara berturut-turut.

Waktu itu Abu Thalib sudah berusia delapan puluh tahun lebih. Setelah Quraisy mengetahui ia dalam keadaan sakit yang akan merupakan akhir hayatnya, mereka merasa khawatir dengan apa yang bakal terjadi nanti antara mereka dengan Muhammad dan para sahabatnya. Apalagi setelah ada Hamzah dan Umar yang terkenal garang dan keras.

Oleh sebab itu, pemuka-pemuka Quraisy segera mendatangi Abu Thalib. "Abu Thalib, seperti kau ketahui, kau adalah dari keluarga kami juga. Keadaan sekarang seperti kau ketahui sendiri, sangat mencemaskan kami. Engkau juga sudah mengetahui keadaan kami dengan keponakanmu itu. Panggillah dia. Kami akan saling
memberi dan saling menerima. Dia angkat tangan dari kami, kami pun akan demikian. Biarlah kami dengan agama kami dan dia dengan agamanya sendiri pula," kata mereka.

Rasulullah datang tatkala mereka masih berada di tempat pamannya itu. Setelah  diketahuinya maksud kedatangan mereka, beliau berkata, “Sepatah kata saja yang aku  minta, yang akan membuat mereka merajai semua orang Arab dan bukan Arab."

"Ya, demi bapakmu," jawab Abu Jahal. "Sepuluh kata sekalipun silakan!"

"Katakan, tidak ada tuhan selain Allah! Dan tinggalkan segala penyembahan yang selain Allah," kata Nabi SAW.

"Muhammad, maksudmu supaya tuhan-tuhan itu dijadikan satu Tuhan saja?" tanya mereka.

Kemudian mereka berkata satu sama lain, "Orang ini tidak akan memberikan apa-apa seperti yang kamu kehendaki. Pergilah kalian!"

Ketika Abu Thalib meninggal, hubungan Rasulullah dengan pihak Quraisy lebih buruk lagi dari yang sudah-sudah. Dan sesudah Abu Thalib, disusul pula dengan wafatnya Khadijah.

Dua peristiwa itu meninggalkan duka cita dalam jiwa Muhammad SAW. Dan pihak Quraisy semakin keras mengganggunya. Yang paling ringan diantaranya ialah ketika seorang pandir Quraisy mencegatnya di tengah jalan lalu menyiramkan tanah ke kepalanya.

Tahukah orang apa yang dilakukan Rasulullah? Beliau pulang ke rumah dengan tanah yang masih di atas kepala. Fatimah, puterinya, lalu datang mencucikan kotoran tersebut sambil menangis. Tak ada yang lebih pilu rasanya dalam hati seorang ayah daripada mendengar tangis anaknya, lebih-lebih anak perempuan.

"Jangan menangis anakku," kata beliau kepada puterinya yang sedang berlinang air mata itu. "Allah akan melindungi ayahmu!"

Setelah peristiwa itu gangguan Quraisy kepada Muhammad SAW semakin
menjadi-jadi. Beliau merasa sangat tertekan.

Terasing  seorang diri, beliau pergi ke Thaif, tanpa diketahui orang lain. Beliau berharap mendapatkan dukungan dan suaka dari warga Thaif dan mereka pun akan dapat menerima Islam. Namun ternyata mereka juga menolaknya secara kejam. Mereka menghasut orang-orang pandir agar bersorak-sorai dan memakinya.

Keadaan itu diketahui pula oleh Quraisy sehingga gangguan mereka kepada Muhammad SAW makin menjadi-jadi. Namun hal itu tidak mengurangi semangat Rasulullah dalam menyampaikan dakwah Islam.

Kepada kabilah-kabilah Arab pada musim ziarah, beliau memperkenalkan diri, mengajak mereka mengenal arti kebenaran. Diberitahukannya kepada mereka, bahwa ia adalah Nabi yang diutus, dan dimintanya mereka memercayainya.

Namun sungguhpun begitu, Abu Lahab, sang paman, tidak membiarkannya. Bahkan dibuntutinya ke mana pun beliau pergi. Dihasutnya orang supaya jangan mau mendengarkan.

Muhammad SAW sendiri tidak cukup hanya memperkenalkan diri kepada kabilah-kabilah Arab pada musim ziarah di Makkah saja. Beliau mendatangi Bani Kindah, Bani Kalb, Bani Hanifah dan Bani Amir bin Sha'sha'ah. Tapi tak seorang pun dari mereka yang mau mendengarkan.

Bani Hanifah bahkan menolak dengan cara yang buruk sekali. Sedang Bani Amir menunjukkan ambisinya, bahwa kalau Muhammad mendapat kemenangan, maka sebagai penggantinya, segala persoalan nanti harus berada di tangan mereka. Namun setelah dijawab, bahwa masalah itu berada di tangan Allah, mereka pun membuang muka dan menolaknya seperti yang lain.

Makin besar penolakan yang dilakukan kabilah-kabilah itu, makin besar pula keinginan Rasulullah untuk menyendiri. Pihak Quraisy pun kian gigih dalam melakukan gangguan kepada para sahabatnya. Beliau pun kian merasakan kepedihan.

Sumber: Sejarah Hidup Muhammad oleh Muhammad Husain Haekal